“Mind Maping”, Metode Belajar dengan Lebih Mudah

Pernahkah kamu merasa sulit untuk belajar? Mungkin karena materinya yang membosankan? Atau mungkin karena isi dari buku yang membosankan? Hanya tulisan berwarna hitam di atas kertas putih atau bahkan buram.

Ketika kamu sedang membaca satu paragraph saja, kamu sudah merasa kantuk dan mungkin sudah malas membacanya lagi. Iya kan? Ada beberapa cara belajar yang dapat kamu terapkan untuk mengatasi kesulitanmu tersebut. Tapi mungkin kamu belum merasa yakin bahwa cara belajarmu tersebut sudah membantumu. Atau mungkin kamu malah masih malas?

Bila ketika kamu sedang mendengarkan gurumu, atau mungkin ketika kamu belajar, sering bukan kamu menyalinnya ke sebuah buku dan ketika kamu membacanya kembali, ternyata kamu hanya seperti menyalinnya ke buku tulismu.

Dan ketika kamu membacanya untuk belajarmu, kamu juga merasa bosan dan sulit lagi untuk mengerti apa yang kamu tulis. Bila kamu senang dengan menggambar, atau senang dengan memainkan warna, mungkin teknik mind map cocok bagimu untuk mudah memasukkan informasi ke dalam otakmu.

Memahami potensi menggunakan peta pikiran

Kamu bisa menuliskan apapun ide kamu. Mungkin kamu memiliki potensi yang kamu miliki. Kamu senang menulis catatan revisi, atau mungkin kamu suka menulis sebuah perencanaan, seperti proyek, wawancara kerja, CV atau presentasi. Atau mungkin kamu sedang belajar sebuah bahasa asing? Atau malah kamu sedang membuat penelitian? Kamu bisa menempatkannya ke pokok informasimu. Tapi yang pasti adalah pahami dulu potensi yang kamu miliki dengan menggunakan mind map.

  • Siapkan konsep kasar

Ketika kamu ingin membuat mind map, yang harus kamu miliki adalah konsep. Kamu bisa menggunakan pensil dan penghapus. Konsep yang kamu miliki bisa kamu coret-coret terlebih dahulu di atas sebuah kertas.

Pastikan juga kamu mengetahui informasi apa yang kamu miliki sehingga dapat kamu gunakan dalam membuat mind map. Dan sebelum kamu membuatnya, tuangkan dulu konsep yang kamu miliki. Bila saja kurang pas, kamu bisa menghapusnya bukan? Kamu bisa merencanakan akan menggunakan warna apa saja dan yang pasti kata apa saja sebagai kata kuncinya.

  • Menghasilkan topik

Apa yang akan menjadi focus pemikiranmu? Topik yang kamu miliki sebaiknya jangan terdiri dari banyak kata. Usahakan hanya satu kata saja agar mudah untuk diingat. Bila terdiri dari banyak kata, kamu sudah malas duluan untuk membacanya bukan?

Tulis topik tersebut di tengah kertas yang kamu miliki. Tulis semenarik mungkin dengan warna semenarik mungkin juga. Bila topik yang kamu miliki memberikan pemikiran yang luas, maka akan mempermudahmu untuk berpikir di masa depan.

Tempatkan topik di tengah halaman. Kamu bisa menulisnya atau mungkin kamu bisa menggambarnya. Intinya adalah, buatlah semenarik mungkin. Gambar dan tulis topik yang ada di pikiranmu. Buat tulisan tersebut tebal-tebal dan yang pasti, gambar! Visualisasikan apa yang akan kamu pelajari.

  • Menentukan Ukuran

Peta pikiran tidaklah lebih dari ukuran kertas A4. Bila terlalu besar, kamu akan kesulitan untuk memahaminya bukan? Dan yang pasti kamu malah tidak focus dengan apa yang akan kamu tulis. Atau mungkin bila terlalu kecil, kamu juga akan kesulitan utnuk menulis semua cabang rute yang akan kamu tulis. Baru juga menulis topik, si kertas sudah tidak muat lagi untuk menampung cabangnya. Jadi, ukuran yang pas adalah kertas ukuran A4.

  • Berkreasi dengan warna kesukaanmu

Ketika kamu mencoba menuangkan semua idemu yang ada di kertasmu, gunakan warna kesukaanmu. Tetapi, jangan pula kamu menggunakan satu warna ketika kamu mencoba menulisnya. Gunakan variasi warna yang berbeda supaya matamu tidak lelah ketika membacanya kembali. Tulisan hitam di atas kertas putih sudah membuatmu bosan bukan?

Meskipun kamu menuliskan dengan warna yang kamu suka, tetapi ketika kamu melihat satu warna saja, pasti kamu juga merasa aneh bukan? Tidak ada bedanya dengan text book yang kamu baca selama ini.

  • Mengeluarkan ide-ide yang bebas untuk memulai mengalirkan ide-ide

Catat apa yang datang pada pikiranmu. Ketika kamu menghasilkan sebuah pikiran, tarik sebuah cabang dari topik utama. Buatlah kata-kata seminimal mungkin. Kamu bisa hanya menggunakan satu atau dua kata untuk menggambarkan cabang tersebut.

Misalkan, topik yang akan kamu gunakan adalah tentang bangunan tiga dimensi, kamu bisa menarik sebuah cabang sebagai rute pengertian bangunan tiga dimensi yang kamu namakan cabang tersebut dengan “pengertian”, kemudian kamu bisa menarik lagi cabang dari topik utama sebagai rute macam-macam bangunan tiga dimensi yang kamu namakan dengan “macam”.

  • Cobalah membuat suatu Gagasan

Gagasan bisa berupa ide-ide yang muncul di pikiranmu. Kamu bisa membuatnya dengan mengapa, apa, bagaimana ide-ide yang akan kamu munculkan dalam mind mapmu.

Mind map memudahkanmu untuk belajar bukan? Maka pahamilah dulu apa yang kamu pelajari sebelum kamu menuangkannya ke dalam peta. Mind map bukan berarti kamu menyalin apa yang baru saja kamu pelajari, tetapi menuangkan pokok permasalahannya ke dalam sebuah visualisasi gambar yang kamu buat untuk memudahkan memasukkan informasi yang kamu pelajari ke dalam otakmu.

Ingat, mind map bukan menyalin. Karena yang pasti kamu akan merasa bosan bukan? Dan merasa sia-sia karena kamu menyalin text book yang kamu baca ke dalam sebuah kertas.

  • Lanjutkan dengan cabang

Di dalam peta, ketika ada cabang utama, pasti akan ada cabang-cabang selanjutnya bukan? Buatlah cabang yang menjadi cabang dari cabang topik utamamu. Seperti yang di contohkan tadi, ketika cabangmu kamu namakan “macam”, maka kamu bisa membuat cabang lagi dari cabang tersebut.

Kamu bisa membuatnya dengan apa saja macam-macam dari bangunan tiga dimensi. Seperti balok, kubus, prima, dan lain sebagainya. Atau ketika kamu membuat cabang dengan nama “rumus”, kamu bisa membuat cabang dari cabang tersebut dengan mengisikan rumus-rumus bangunan tiga dimensi. Buatlah cabang di setiap cabang topik utama.

Pastikan semua informasi yang kamu miliki ada di kertas petamu. Lihat semua sisi kertasmu, sudahkah semuanya ada di sana? Atau mungkin ada yang terlewat? Buat cabang lagi. Setelah selesai pemetaan, hati-hati mempelajari hubungan yang telah kamu buat dan coba untuk memperbaiki apa yang kamu buat

Ketika kamu membaca kembali apa yang kamu buat, pastikan bahwa cabang yang kamu buat benar dan tepat. Telusuri rute tersebut. Bila kamu rasa sudah benar, kamu bisa menghiasinya agar tidak terkesan kosong. Kamu bisa menggambar apapun yang ada di idemu. Dan yang pasti sesuai dengan topik utamamu.

  • Jangan takut membuat kesalahan

Setiap orang pasti memiliki kesalahan bukan? Begitu pula ketika kamu membuat sebuah mind map. Jangan takut ketika kamu menuangkan warna-warnamu ke dalam kertasmu. Tuangkan saja semua ide yang ada di kepalamu. Buat semeriah mungkin.

Mind map sebenarnya sudah diterapkan di beberapa sekolah. Tetapi, mind map di Indonesia belumlah cukup terkenal karena pola belajar masyarakat Indonesia yang monoton. Mereka hanya mencatat dan menacatat.

Mengapa tidak menggunakan kreasi ketika mencatat? Kamu bisa menggunakan segala kreativitasmu untuk membantu dalam pencatatanmu. Banyak mind map bila kamu bisa menerapkannya. Selain kamu mudah untuk belajar karena tidak terlalu banyak kata yang digunakan, kamu juga bisa mengasah kreativitasmu sendiri untuk menjadi sebuah catatan. Selamat mencoba.